Antara Poligami dengan Ta’addud

love-allSiapapun sahabatku yang membaca tulisan ini, saya harap membacanya dengan santai meski isinya serius. Apa yang saya tulis ini murni pendapat pribadi berdasarkan pemahaman saya selama ini. Boleh jadi ada (atau malah banyak) sahabat yang tidak sependapat.  Itu tentu HALAL alias sah-sah saja. Yang penting kita saling menghargai dan tetap saling mecintai karena Allah. Di kalangan para Ulama saja perbedaan pendapat sudah merupakan hal jamak apalah lagi dengan saya yang masih sangat bodoh ini.

Saya beberapa kali ditag (ditandai) oleh teman-teman pendukung “Ta’addud Az Zaujat” dalam postingan facebook. Topik pembicaraannya adalah seputar istilah POLIGAMI dan T’AADDUD. Namun karena beberapa (kebanyakan?) komentar yang ada dalam postingan tersebut tidak sesuai dengan pendapat saya, maka saya menahan diri untuk berkomentar.

Bagi saya sebenarnya berbeda pendapat adalah hal biasa dan wajar. Namun saya tak ingin mengemukakan pendapat dalam bentuk komentar status FB karena beberapa hal. Pertama, saya menyadari kekurangan ilmu saya sehingga saya tak ingin buru-buru berpendapat.  Kedua, saya tak ingin pendapat saya yang berbeda menyebabkan diskusi menjadi ajang ‘jiddal’ (debat kusir) yang tak membawa manfaat. Apalagui pada beberapa orang yang berkomentar saya melihat mereka tak sungkan menulis bahasa yang ‘kasar’ dan ‘melecehkan’. Wah, jadi ngeri kalau kalimat-kalimat tidak mengenakkan malah tertuju ke saya. Jujur, saya ini orangnya ‘penakut’.

Wal hasil saya merasa lebih nyaman dan aman untuk menuliskan pendapat saya secara terpisah dan dalam tulisan sendiri yang khusus. Bukan dalam kolom komentar di dinding sahabat maupun grup facebook. Sedangkan ini saja belum tentu semua sahabat ‘rela’ berbeda pendapat dengan saya. Mudahan saja semua idem… Aamiin…

Masalah yang mengemuka di kalangan ‘pendukung’ Ta’addud Az Zaujat adalah HARAM nya POLIGAMI dan syar’inya Ta’addud. Sebuah pembahasan yang sebenarnya bermain pada wilayah bahasa. Bisa ditanggapi serius dan bisa ditanggapi main-main.

Namun bagi saya sendiri, karena ini merupakan catatan khusus. alias bukan komentar di facebook, maka saya ingin menyorotinya secara lebih serius meski tak juga dengan tegang. Tetap dengan santai namun tidak dengan bermain-main. Terlebih ini persoalan agama (syari’at) yang kita diingatkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk tidak bermain-main, apalagi berolok-olok.

Pen-generalisiran bahwa POLIGAMI itu adalah HARAM menurut saya tidak tepat (kalau tak ingin disebut salah). Pasalnya kata POLIGAMI masih bersifat umum yakni mencakup semua jenis perkawinan dengan banyak istri atau suami. Dalam poligami ada yang disebut POLIANDRI yakni pernikahan dengan seorang istri yang memiliki suami banyak (lebih dari satu). Juga termasuk dalam poligami adalah POLIGINI yakni seorang lelaki dengan banyak istri.

Secara bahasa saja tidak tepat memukul rata dengan kalimat “Poligami itu Haram” karena kenyataannya poligami masih mencakup di dalamnya POLIGINI yang dihalalkan oleh ISLAM. Apalagi jika kita memahaminya dengan pengertian secara “Istilah”, maka dalam pemahaman manusia secara umum yang dimaksud POLIGAMI adalah POLIGINI itu sendiri.

Ini serupa dengan penyebutan Kiyai dalam bahasa Inbdonesia. Secara bahasa Kiyai  adalah penyebutan (gelar) terhadap sesuatu yang dituakan, dikeramatkan dan dihormati. Oleh karena itulah yang bergelar kiyai itu tidak hanya ulama atau tokoh agama, namun dalang dan dukun pun banyak yang bergelar kiyai. Malah benda mati dan hewan juga ada yang digelari Kiyai.

Namun secara istilah, dalam pengertian umat Islam Indonesia Kiyai merupakan gelar kehormatan yang diberikan kepada para Ulama. Umumnya mereka yang mendapat gelar Kiyai adalah Ulama yang memimpin sebuah pondok pesantren.

Haedar Ruslan, seorang guru di Pondok Pesantren Daarul Ma’arif Bandung dalam tulisannya berjudul ‘Dinamika Kepemimpinan Kyai Di Pesantren’ menulis tentang seluk beluk dan arti Kyai. Menurutya, Kyai berasal dari Bahasa Jawa Kuno ‘Kiya-Kiya’ yang artinya orang yang dihormati. Sedangkan dalam pemakaiannya dipergunakan untuk; pertama, pada benda atau hewan yang dikeramatkan seperti Kyai Plered (tombak), Kyai Rebo dan Kyai Wage (Gajah di kebun binatang Gembira Loka Yokyakarta). Kedua, pada orang tua pada umumnya, ketiga, pada orang yang memiliki keahlian dalam Agama Islam yang mengajar santri di Pesantren.

Secara terminologi, menurut Manfred Ziemnek, pengertian Kyai adalah Pendiri atau pemimpin sebuah pesantren, sebagai muslim “terpelajar” yang telah membaktikan hidupnya “demi Allah” serta menyebarluaskan dan mendalami ajaran-ajaran dan pandangan Islam melalui kegiatan pendidikan Islam. Namun pada umumnya di masyarakat kata “kyai” disejajarkan pengertiannya dengan ulama dalam khazanah Islam. ( Moch. Eksan, 2000 ).

Demikian pula dengan sebutan “Ustadz” secara bahasa artinya adalah “Guru”. Namun secara istilah tak serta merta setiap guru digelari Ustadz. Malah dalam komunitas (kelompok) tertentu penyebutan ustadz dianggap tidak pantas diberikan kepada orang di luar kelompoknya meskipun ia seorang yang ‘alim dan mengajar banyak jama’ahnya.

Istilah ini konon walau ada dalam bahasa Arab, namun bukan asli dari bahasa Arab. Di negeri Arab sendiri, istilah ustadz punya kedudukan sangat tinggi. Hanya para doktor (S-3) yang sudah mencapai gelar profesor saja yang berhak diberi gelar Al-Ustadz. Kira-kira artinya memang profesor di bidang ilmu agama.

Jadi istilah ustadz ini lebih merupakan istilah yang digunakan di dunia kampus di beberapa negeri Arab, ketimbang sekedar guru agama biasa.

Kembali ke soal POLIGAMI tadi. Memang penyebutan yang  rada ‘Islami” adalah Taaddud. Namun jika kita kembalikan kepada bahasa pun Ta’addud juga tidak serta merta menjadi “Syar’i” jika tidak ditambahi kata Az Zaujat (istri-istri). Karena pengertian T’addud sendiri hanyalah banyaknya jumlah. Bertolak dari arti bahasa ini, banyaknya di sini bisa saja bermakna poliandri (banyak suami) atrau poligini (banyak istri).

Kata ta’addud merupakan masdar dari kata kerja ta’addada yang artinya banyak jumlahnya / bilangannya [Achmad Warson Munawwir, Kamus Al Munawwir. Hlm 903]. Maka arti kata ta’addud adalah banyaknya jumlah atau bilangan. Dengan demikian secara bahasa hampir sama saja makna POLIGAMI dengan Ta’addud. Bahkan kata POLIGAMI lebih khusus bicara tentang pernikahan, sedangkan ta’addud sendiri masih bersifat lebih umum alias tak hanya soal pernikahan.

Makanya dalam kajian ilmu hadits kita mengenal istilah TA’ADDUD THURUQ yang artinya “Banyak Jalan”, yakni hadits yang diriwayatkan dari beberapa jalur sanad. Berbeda dengan istilah POLIGAMI yang memang makna dasarnya sudah mengenai pernikahan atau perkawinan.  Nah, terkecuali kata ‘Ta’addud” tersebut mendapat tambahan kata “Az Zaujat” yang artinya istri-istri. Maka jadilah ia kalimat “Ta’addud Az Zaujat” yang berarti beristri banyak.

Dengan pengertian di atas (secara bahasa) sekalipun “ta’addud az zaujat” masih belum memenuhi pengertian syari’at yakni adanya batasan hanya 4 istri. Namun oke lah.. tentu kita tak perlu sedetil itu. Karena secara istilah -insya Allah-, “Ta’addud Az Zaujat” sudah dimengerti sebagai POLIGAMI yang syar’i. Tidak masalah…🙂

Ini jika kita memahami dari segi bahasa (etimologi/lughawi). Namun jika kita memandang dari segi istilah (terminologi) maka pemahaman kita sebagai orang Islam tentu  yang dimaksud dengan POLIGAMI dan T’ADDUD adalah pernikahan dengan banyak istri sesuai ajaran Islam.

Maka saya rasa terlalu mempermasalahkan penggunaan kata POLIGAMI dan T’ADDUD, apalagi sampai dengan mengatakan POLIGAMI itu HARAM bukanlah hal yang urgen bahkan cenderung menimbulkan fitnah (baca: kesalahfahaman).

Adapun jika kita menganjurkan agar kaum muslimin lebih menggunakan istilah Ta’addud Az Zaujat atau bisa disingkat “Ta’addud” saja, ini merupakan hal yang sangat bagus. Bagaimanapun bahasa Arab adalah bahasa yang identik dengan ajaran Islam. Bahkan bahasa Arab merupakan bahasa penduduk Sorga nantinya.

Saya sendiri merupakan pelaku POLIGAMI, eh… Ta’addud🙂 yang memandang bahwa penggunaan istilah “Ta’addud Az Zaujat” itu lebih bagus. Namun menggunakan kata POLIGAMI terkadang juga diperlukan manakala kita berhadapan dengan orang yang belum faham atau belum familiar dengan istilah ta’addud sendiri.

Dalam interaksi dengan masyarakat, terkadang memang kita harus menyesuaikan dulu bahasa dan gaya pembicaraan dengan objek dakwah yang kita hadapi. Hal ini bertujuan agar pesan agama yang ingin kita sampaikan bisa diterima dengan lebih mudah. Jadi penggunaan istilah yang bukan berbahasa Arab semata-mata untuk mengambil manfaatnya.

Mohon maaf jika ada yang salah…. maklum ilmu dan pengalaman saya masih sangat sedikit lagi terbatas. Apa yang saya ungkapkan dalam catatan kecil ini hanyalah pemahaman saya berdasar apa yang pernah saya dengar, baca dan alami. Semoga sahabat sekalian berkenan meluruskan saya dengan cinta kasih dan  akhlaq yang santun…

Wallahu a’lam

Samarinda, 6 Januari 2013
(Abu Muhammad As-Syafei)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s