Pentingnya Ketaatan Istri

love-allDalam rumah tangga ta’addud, karakter istri itu pasti tidak sama. Boleh jadi ada istri yang pendiam, sedikit berkata dan menanggapi permasalahan dengan hati-hati. Ada pula istri yang pembawaannya ekspresif, emosional dan blak-blakan bicara sehingga terkesan kurang bisa menyusun kata-kata.

Sebagai suami yang bertanggung jawab kita memang harus terus berjuang memperbaiki hal-hal ‘buruk’ yang ada pada istri-istri kita. Percayalah di balik kekurangan akan kita temukan banyak kelebihan. Yang penting selaku suami kita harus tak pernah kenal lelah melakukan perbaikan dan kebaikan. Tidak ada kata berhenti, selama hayat masih di kandung badan.

Memperbaiki sifat atau pembawaan seseorang itu memang tidak mudah. Hal ini dikarenakan setiap manusia itu (termasuk para istri) telah dibentuk oleh budaya suku dan keluarga serta pergaulan dia selama ini. Intinya linkungan hidup dia selama pembentukan kerpibadian terjadi adalah ‘alat cetak’ yang membuat karakter istri kita seperti yang ada saat ini. Dan merubah semua yang ‘kurang bagus’ agar menjadi lebih bagus itu perlu proses. Prosesnya bisa cepat, bisa lama,bahkan seumur hidup.

Namun percayalah seburuk apapun istri kita saat ini selama ia masih menghormati suami, taat kepada perkataan dan aturan suami, kita masih memiliki harapan besar untuk bisa membuat kondisi dia lebih baik lagi. Namun jika wanita sudah “tidak taat” kepada apa yang dikatakan suami, alamat perbaikan termat sulit dilakukan bahkan boleh jadi akan dengan segera terhentikan.

Terkadang sikap baik, dan tutur kata yang terkesan bijak tidak menjamin bahwa ketaatan kepada suami juga baik. Tak jarang ada wanita (istri) yang secara verbal menunjukkan ketaatan namun secara praktek apa yang dilakukan tak menunjukkan ketaatan tersebut.

Misalnya, saat dinashihati suami dia berkata: “Oh, iya papa…. saya akan laksanakan. Pokoknya saya nurut saja apa kata papa,” Namun dalam prakteknya ia tak mengerjakan apa yang diucapkan. Kalimatnya bagus terkesan taat dan tunduk kepada aturan suami namun kenyataannya itu hanya di lisan saja. Tindak tanduknya toh tetap saja apa yang dilarang suami ia kerjakan dan apa yang diperintahkan suami ia tak melakukan.

Boleh jadi pula ada istri yang suka ‘membantah’, beradu argumen, bahkan harus terjadi ‘debat’ saat suami memberikan amaran dan larangan. Namun dalam prakteknya ia malah tunduk dan taat akan perintah tersebut. Apa yang ia bantahkan dan argumen yang disampaikan hanyalah bentuk ekspresi ‘kejujuran’ akan pendapatnya bukanlah bentuk penentangan yang sesungguhnya. Saat di luar ‘perdebatan’ ia toh tetap juga melaksanakan apa yang suaminya tetapkan.

Memang sih yang paling ideal tentu saja seorang istri yang baik adalah yang tutur katanya terdengar indah dan tingkah laku dan ketaatannya juga terlihat elok. Namun tentu teramat susah mencari istri yang ‘lengkap’ dengan segala kebaikannya di jaman seperti sekarang ini. Saya tidak mengatakan TIDAK ADA, saya hanya menyebutkan kenyataan “SUSAH” mencari yang seperti itu. Dan kalaupun ada, belum tentu dia istri kita

Maka sekiranya sikap positif itu belum terkumpul semuanya pada istri-istri kita, usahakanlah untuk lebih mengutamakan KETAATAN sebagai kelebihan yang utama. Karena selama seorang istri masih menjunjung tinggi ketaatan kepada suaminya, insya Allah perbaikan akan sangat mungkin dilakukan.

Namun sekiranya ketaatan sudah HILANG dari diri seorang istri, meskipun sikapnya di depan kita terlihat baik, maka itu tak lebih dari strategi menyembunyikan “pebangkangan” bahkan mungkin bentuk “kemunafikan”.

Adapun KETAATAN kepada suami (karena taat kepad ALLAH tentunya) adalah kata kunci keutuhan rumah tangga. Sebesar apapun potensi konflik yang ada dalam keluarga; kecemburuan antar istri dan antar anak, ketersinggungan sikap antar ‘madu’, serta ‘onak duri’ yang mengganggu kehidupan taaddud lainnya, insya Allah akan bisa teratasi. Sehingga dalam proses perbaikan yang dilakukan oleh suami, istri tetap bisa menjalaninya dengan baik.

Semoga Allah memperbaiki akhlaq istri-istri kita, menghilangkan hal buruk pada diri mereka dan memperbanyak kebaikan mereka. Dan semoga kita selaku suami bisa menjadi teladan dalam berbuat baik, juga diberi kemudaahan dalam membentuk istri-istri kita menjadi istri-istri yang shalihah yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya bisa masuk surga dari pintu mana saja yang mereka mau… Aamiin

Wallahu a’lam

Samarinda 30/12/2013

Abu Muhammad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s