Anti Galau dan Tips Rajin Shalat (1)

flower-whiteBelum lama ini ada seorang ikhwan (laki-laki) yang berkonsultasi ke saya karena hatinya merasa galau, padahal menurut dia tak ada masalah apa-apa. Alhamdulillah setelah mengikuti tips berikut dia mengaku lebih nyaman. Mungkin kalimat yang saya sampaikan saat itu tidak sama persis, tapi kurang lebih isinya sebagai berikut ini.

Untuk catatan ini, tentu sudah saya lakukan penyuntingan kalimat dan penambahan beberapa nash agar lebih enak dibaca dan lebih lengkap uraiannya. Sengaja saya bagikan di sini, siapa tahu bermanfaat bagi saudaraku yang lain yang mengalami hal yang sama.

Oya, ada juga inbox dari seorang ibu yang menanyakan hal sama. Namun ada tambahan bagaimana tips agar anak mudah menuruti perintah untuk mengerjakan shalat. Semua terangkum dalam uraian singkat di bawah ini.

Untuk ‘menggiring’ hati agar menuju kepada ketenangan dan ketentraman, ada beberapa tips. Mungkin ini masih jauh dari sempurna, karena hanya berdasar pengalaman pribadi saya yang boleh jadi belum tentu pas buat orang lain.

1) Berzikir kepada Allah baik dengan ‘mengingat’ maupun dengan menyebut nama-Nya dan beristighfar (mohon ampuan atas segala dosa). Sering kotoran hati (terutama dosa) yang membuat kita gelisah. Hanya saja ego kita yang berupaya menutupi bahwa kita telah berbuat dosa. Perumpamaan orang yang berzikir kepada Robbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati. (HR. Bukhari dan Muslim)

Iblis berkata kepada Robbnya, “Dengan keagungan dan kebesaranMu, aku tidak akan berhenti menyesatkan bani Adam selama mereka masih bernyawa.” Lalu Allah berfirman: “Dengan keagungan dan kebesaranKu, Aku tidak akan berhenti mengampuni mereka selama mereka beristighfar”. (HR. Ahmad)

2) Marilah memperbanyak sedekah. Selain sebagai amal shalih, secara kejiwaan sedekah itu menyenangkan hati orang lain. Ini  terutama bagus dilakukan terhadap kedua orang tua.

Kita bisa menyenangkiann hati orang tua dengan hal-hal sederhana. Misalnya mendatangi mereka, bersikap ramah kepada mereka dan membawakan oleh-oleh, meskipun hanya sederhana. Membawakan makana kesukaan mereka misalnya. Mungkin harganya tidak mahal, namun kegembiraan yang ditimbulkannya sangat mahal sekali.

Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)

Kadang perhatian kecil terasa begitu istimewa di hati mereka dan membuat mereka GEMBIRA. Secara psikologis saja, saat kita bisa menyenangkan hati orang lain (apalagi ibu dan bapak) kit juga akan merasa senang.

Barangsiapa ingin agar do’anya terkabul dan kesulitan-kesulitannya teratasi hendaklah dia menolong orang yang dalam kesempitan. (HR. Ahmad)

3) Mari berintrospeksi diri. Siapa tahu kita punya rasa HASAD (dengki) kepada orang lain. Jika ada (walau hanya sedikit) segera kita tinggalkan. Kita coba untuk ikut merasa senang atas kesuksesan atau keistimewaan yang dimilki oleh orang lain. Insya Allah jiwa akan tenang. Karena kedengkian selalu membuat gelisah, maka dengan meningalkan dengki kita akan meraih ketenangan.

Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu. (HR. Abu Dawud)

Jika pahala sudah terkikis, maka yang tinggal hanyalah keburukan atau dosa. Sedangkan dosa tidak akan pernah membuat manusia tenang. Hati menjadi galau dan hidup terasa sempit. Kedengkian akan membuat manusia merasa susah saat melihat orang lain bahagia. Kedengkian juga akan membuat perasaan tidak tenag saat menyaksikan kehebatan dan kemuliaan orang lain.

4) Berbaik sangkalah kepada Allah dan jangan takut menghadapi hari depan. Banyak kegalauan terjadi karena kita was-was dengan kehidupan kita. Kita tidak yakin bahwa kita mampu menghadapi aneka permasalahan yang ada di hadapan kita. Padahal kita hanya mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi.

Kesusahan yang sedang kita alami boleh jadi adalah ‘cara’ Allah menyayangi kita, karena Dia ingin meninggikan derajat kita dan menjadikan kita manusia istimewa disisi-Nya.

Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari)

Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani)

Semestinya kita ‘bertawakal’ kepada Allah. Jangan ragu bahwa Dia pasti akan menolong kita. Percayalah dengan janji-Nya bahwa barang siapa bertaqwa kepadnya Dia akan beri jalan keluar atas (segala) permasalahan. Dan Dia akan memberikan rejeki dari jalan yang tak kita duga-duga.

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah nescaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (At-Talaq: 1-4)

Maka yang terpenting adalah bagaimana kita berusaha untuk beramal sebaik mungkin. Ikhlaslah menjalani hidup, dan yakinlah karunia Allah sangat luas disediakan buat kita. Tinggal kitanya saja, mau apa tidak meraih karunia Allah yang berlimpah ruah tersebut.

5) SABAR dan BERSYUKUR menjalani hidup ini.

Orang yang bahagia ialah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang bila terkena ujian dan cobaan dia bersabar. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Sabar bagi seorang muslim aplikasinya adalah menanamkan keyakinan bahwa segalanya adalah milik Allah dan hanya kepadanya kita kembali. Dengan demikian kita tak akan kecewa atas apapun yang menimpa kita.

Sabar adalah separo iman dan keyakinan adalah seluruh keimanan. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Tidak ada suatu rezeki yang Allah berikan kepada seorang hamba yang lebih luas baginya daripada sabar. (HR. Al Hakim)

Saat mendapat musibah atau hal yang tak sesuai harapan, kita sabar, maka menjadi PAHALA bagi kita dan ini BAIK, kata RAsulullah. Demikian pula saat mendapat nikmat atau semua berjalan sesuai keinginan kita maka syukur akan membuat jiwa tentram dan memperbesar PAHALA (amal kebaikan).

Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperoleh kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut isterinya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Bahkan segala yang menimpa kita bisa menjadi penghapus dosa. Sebagaimana sabda Nabi Shalllahu ‘alaihi wa salam:  Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari)

Selanjutnya bersambung ke : Tips Rajin Shalat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s