Soal Haramnya “Selamat Natal”, Jangan Salah Faham…

toleransiBuat sahabatku yang Non-MUslim… Larangan ucapan Selamat Natal yang dikeluarkan MUI mohon jangan ditanggapi sebagai sikap tidak toleran para Ulama kami terhadap saudara Non-Muslim. Justeru karena persoalan agama itu kita harus bertoleransi maka umat Islam dilarang ikut-ikutan dalam perayaan agama lain sebagaimana agama lain juga jangan ikut-ikutan dalam perayaan Umat Islam.

Harus difahami bahwa perayaan dan ucapan bagi Islam adalah merupakan ‘ritual’ (baca: perilaku) keagamaan. Karena itu tidak boleh bercampur aduk antara muslim dan non-Muslim. Sikap toleransi yang benar adalah dengan memberikan kebebasan saudara kita dalam merayakan hari besar mereka, bukan dengan ikut merayakannya.

Perlu diingat bahwa ketentuan tiapp-tiap agama itu berbeda-beda. Mungkin bagi agama lain ucapan “selamat” hari raya itu tak termasuk ranah beragama, namun bagi kami kaum muslimin itu bagian dari ajaran agama yang kita tidak boleh mencampur adukkannya.

Jadi, tidak bisa dihubungkan larangan pengucapan SELAMAT HARI RAYA dengan sikap intoleransi. Justeru kalau saudaraku yang Non Muslim mengharuskan kami melanggar hukum agama kami, maka itu bentuk intoleransi pula. Tentu bukan itu yang kita inginkan.

Dalam Islam jelas LAKUM DIINUKUM WA LIYADIIN (Bagimu agamamu, bagiku agamaku). Artinya bukan sekedar identitas namun juga aneka ajaran dan ritual masing-masing agama adalah bagi pemeluk agama masing-masing.

Dalam Islam jelas ada prinsip LAA IKRAHA FIDDIIN (tidak ada paksaan dalam beragama) termasuk tentunya orang Islam tak boleh dipaksa mengucapkan SELAMAT NATAL, SELAMAT WAISAK dll dan yang Non Muslim tak boleh dipaksa mengucapkan SELAMAT IDUL FITRI dan hari raya lainnya. Sekali lagi, hari raya atau Hari besar Keagamaan, bagi kami adalah bagian dari ajaran dan ritual agama sehingga tak boleh dicampur adukkan.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al- Quran, 2:256)“

Saudaraku… mari kita berhati-hati agar tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin memaksakan kehendak atau yang ingin kedamaian di negeri ini menjadi retak. Mari kita bekerjasama menjaga toleransi dan keharmonisan. Allah menciptakan kita tidak satu jenis kelamin, tidak satu suku, bahkan tidak satu agama. Padahal jika saja Dia ingin menjadikan kita semua sama, sangatlah mudah bagi-Nya.

“ Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (al-Quran, 10:99)“

Tapi Allah ingin menunjukkan kekuasaan-Nya dan menguji kita dengan perbedaan tersebut. Dia ingin melihat siapakah diantara kita yang paling baik Amalnya… Nabi Muhammad SAW bersabda: Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. (Al-HAdits).

Demikianlah sekelumit penjelasan mengapa kami (kaum Muslim) diharamkan mengucapkan selamat hari raya agama lain. Oya, saudaraku non Muslim mungki ada yang belum faham makna kata HARAM itu. Mungkin sebagian kita (bahkan yang Muslim) mengidentikkan kata HARAM itu dengan NAJIS, menjijikkan dan yang sejenis. Bukan… Bukan itu maknanya.

HARAM itu bahasa Arab artinya “Tidak diperbolehkan”…. Nah, jika MUI sebagai lembaga panutan ummat “Tidak Memperbolehkan” umatnya itu kan hak interen umat Islam dan tidak melanggar hak Non-Muslim. Sedang itupun MUI tidak memaksa umat untuk mengikuti fatwa tersebut. Kalau umat melanggarnya ya MUI juga tidak menindak (menghukum) karena memang tak memiliki wewenang sejauh itu.

Apalagi kalau kita hubungkan dengan makna Fatwa sendiri. Fatwa adalah pendapat, dimana yang namanya pendapat boleh diikuti dan boleh pula tidak, tergantung individu yang masing-masing. Fatwa merupakan kajian hukum yang tentu bisa diterima dan bisa pula tidak.

JAdi, FATWA HARAM mengucapkan SELAMAT NATAL sama sekali bukan sikap tidak toleran terhadap saudara Non-Muslim. Itu merupakan pendapat hukum yang disampaikan oleh MUI kepada umatnya. Sebagai sebuah pendapat maka dia bisa saja tak dilaksanakan oleh umat jika memang umat menganggap fatwa itu SALAH. Namun sebagai lembaga ilmiah keagamaan MUI berhak mengeluarkan FATWA.

Oya, sehubungan kata HARAM, saat menjalankan Umroh beberapa tahun lalu saya pernah mengalami sendiri ucapan HARAM dari seorang pedagang saat saya menawar harga dagangannya. Maksud si pedagan tentu TIDAK BOLEH. Artinya dia tidak setuju dengan harga penawaran saya. Terasa agak janggal di telinga memang, karena kata HARAM itu sedemikian mengerikan di telinga kita orang Indonesia. Ya mungkin karena di negeri kita maknanya sudah mengalami sedikkit ‘perubahan’ sehingga menjadi lebih seram.

Wallahu a’lam

(AMS)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s