Menjaga Cara Penulisan itu Penting, Tapi ya Jangan ‘Lebay”

insya allahBeberapa tahun lalu, saya pernah dicaci maki oleh seorang teman FB yang (kebetulan) ngaji salafy. Saya sendiri dulu lumayan akrab dengan yang bersangkutan, bahkan beliau pernah ‘meng-ustadzkan” saya (maksudnya memanggil saya dengan sebutan Ustadz.

Caci maki dan bahasa ‘melecehkan’ disampaikan oleh yang bersangkutan saat sama-sama mengomentari status salah seorang sahabat FB. Materinya soal penyingkatan salam (wr.wb)maupun kalimat Shalallahu ‘alaihi wa salam (SAW).

Saya adalah orang yang punya pendapat berbeda dengan kebanyakan teman-teman salafy. Jika kebanyakan teman (saat itu) ‘mengharamkan’ penggunaan singkatan tersebut, saya tidak sependapat. Menurut saya penggunaan singkatan tersebut sah-sah saja (boleh). Namun demikian secara pribadi saya lebih menganjurkan untuk menulisnya secara lengkap.

Wal hasil, komentar keras (tahzir?) hingga yang bernada melecehkan keluar terutama dari teman saya tersebut . Bahkan kemudian saya diblokir (di hajr?) tanpa nashihat atau dijelaskan kesalahan saya secara hikmah. Padahal biasanya orang ini sedemikian ramah dan akrab dengan saya di dunia nyata. Wallahu a’lam… bagaimana kalau saya ketemu dia di dunia nyata, apakah saya masih dicaci maki? Yang jelas sejak saat itu saya memang tak pernah bertemu dengan dia lagi. Menurut informasi dari salah seorang teman, ia sekarang bermukim di Banjarmasin.

Hikmah yang besar saya ambil dari kejadian ini. Yakni betapa beberapa orang yang merasa mendapat ‘ilmu baru’ lantas mementahkan, menyalahkan bahkan memperhinakan orang lain yang tak sependapat dengan dirinya. Ia tak lagi membuka ruang dialog ataupun klarifikasi mengapa orang lain kok berbeda pendapat dengan dirinya.

Menurut saya hal ini disebabkan oleh beberapa hal:

1. Kurangnya ilmu dan pengalaman (kalau tak mau disebut bodoh).

2. Taqlid buta kepada tokoh panutan, sehingga meyakini bahwa yang dikatakan panutannya pasti benar sedang yang lain salah. Seolah tokoh panutannya itu makhsum.

3. Fanatisme kelompok (ashabiyah) sehingga apa yang diyakini oleh kelompoknya ia anggap itu pasti benar dan tak boleh dibantah.

4. Sikap MEREMEHKAN orang lain. Ia menyangka bahwa orang lain itu bodoh (padahal dialah yang bodoh) tidak tahu fatwa ulama, tidak tahu hukum agama dan lain sebagainya. Padahal dialah yang sempit pikiran dan kurang wawasan.

Kembali ke soal menyingkat salam dan kalimat Shalallahu ‘alaihi wa salam menjadi SAW, saya akui memang sebagian ulama salafi melarangnya. Namun hal ini bukan satu-satunya pendapat, karena ulama lain juga ada yang membolehkannya.

Sebutlah misalnya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani atau yang biasa dipanggil Syaikh Albani. Beliau adalah syaikh besar dari kaum SALAFY yang sangat dihormati. Bahkan banyak ulama besar salafy jaman sekarang dan Asatidz (ustadz-ustadz) salafy di Indonesia merupakan murid beliau atau murid dari murid beliau.

Inti dari fatwa tersebut adalah:

لا مانع من ذلك، بخلاف ما يفعله بعضهم قديما (صلعم) إختصار أوسع،أكثر حرفا من (ص) لأن ذلك أُوهم أنها كلمة،وبعض العامة والجهلة لا يفقهها،وأما (ص) فأصبحت رمزا للصلاة على النبي صلي الله عليه وسلم، لذلك أنا ما أرى مانعا من إستعمال هذه اللفظة لأنها لا يُسئ فهمها

“Tidak mengapa, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sebagian orang dahulu dengan menulis singkatan “صلعم” (yaitu ringkasan dari صـلـى الله عليه وسلم -pen), yaitu bentuk ringkasan yang lebih luas dan lebih banyak hurufnya daripada (ص), karena tulisan (صلعم) mengesankan adalah sebuah kata (shol’am), dan sebagian orang awam serta orang-orang bodoh tidak memahaminya (kalau itu hanya singkatan-pen). Adapun singkatan (ص) maka menjadi simbol bagi sholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karenanya aku memandang tidak mengapa menggunakan lafal ini (ص sebagai ringkasan shalawat-pen) karena tidak disalah fahami”

(Transkrip dari kaset Silsilah Al-Hudaa wa An-Nuur, kaset no 165,silahkan lihat http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=6110)

Mungkin ada bagusnya saya sampaikan saja link dari tulisan salah seorang ustadz salafy yang terkenal di Indonesia yakni ustadz Firanda Andirja berikut ini:

http://firanda.com/index.php/artikel/fiqh/525-bolehnya-singkatan-saw-atau-aslkm-wr-wb-dan-sejenisnya-fatwa-syaikh-al-albani-rahimahullah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s