Arif Menyikapi Sejarah dan Tradisi Suku Kita

lintassukuTulisan ini saya buat murni ingin mencari titik damai dan dengan tujuan kebaikan untuk kerabat saya sekalian. Perlu saya beritahukan kepada anda yang kebetulan membaca tulisan ini, bahwa yang akan saya bahas (sedikit) di sini adalah soal komunitas saya sendiri, bukan orang luar. Jadi tulisan ini adalah tulisan tentang kami sendiri bukan untuki menyerang ‘orang lain’.

Membaca komentar seorang teman di grup kedaerahan menyangkut SUKU DAYAK, ada uraian yang menurut saya sangat membahayakan kerukunan, terutama kerukunan antar suku Borneo atau bahkan intern suku Dayak sendiri. Sebagaimana diketahui suku Dayak yang merupakan suku ‘asli’ Borneo (Kalimantan) memiliki keyakinan beragama yg tidak seragam alias beraneka ragam.

Suku dayak sebenarnya multi agama. Ada yang penganut Kaharingan, Kristen, Katolik, dan Islam. Namun kenyataannya yang terjadi selama ini adalah bahwa kehidupan Dayak muslim terkesan terpisah dari komunitas sukunya. Di sinilah awal ‘kontroversi argumen’ terjadi. Yakni mengapa Dayak yang Muslim kok terkesan “terusir” dari sukunya.

Seorang Dayak Muslim di FB pernah ‘mengeluhkan kondisinya yang merasa ‘terbuang’ dari sukunya. Sementara ada komentar dari teman FB yang lain yang mengatakan bahwa itu salah dayak muslim sendiri. Menurut dia Dayak yang sudah menjadi muslim lah yang tidak mau lagi menyebut dirinya Dayak tapi menyebut diri Melayu dan Banjar. Bahkan katanya dulu kerajaan Banjar membunuhi warga Dayak yang memeluk agama Nasrani.

Membaca argumen-argumen seperti ini tentu sangat rawan menimbulkan konflik. Argumen ini juga tidak bisa dipercaya, karena selain fakta sejarahnya masih belum jelas alias masih diperdebatkan pengungkapan ini bisa memancing debat panjang yang menjurus kepada pertikaian lebih dalam.

Dari peengalaman kami sendiri, menurut cerita kakek nenek, dan kenyataan yang kami saksikan, adalah benar bahwa orang Dayak yang menjadi muslim secara sengaja atau tidak kemudian tersingkir dari komunitas sukunya. Oya, perlu difahami bahwa yang saya maksud tersingkir di sini bukan berarti dimusuhi atau dibenci… Bukan. Tersingkir di sini bisa diartikan dicabutkan status adat hingga terpaksanya berpindah tinggal dari komunitas.

Sebenarnya hal ini bukan sesuatu yang “berat”. Artinya proses dan realita “tersingkir” dari komunitas bukan karena adanya diskriminasi atau pengusiran. “Tersingkir” di sini adalah dalam realita alamiah dan tak berpengaruh pada keharmonisan hubungan kekerabatan.

Datuk (ayahnya kakek) istri saya yang merupakan keturunan ‘bangsawan’ salah satu suku Dayak di Kutai Barat, dicabut kebangsawanannya dan dipindahkan dari lingkungan ‘kebangsawanan’ karena dia memeluk agama Islam. Namun jangan salah faham. Ini bukan karena beliau malu mengaku Dayak atau sebaliknya karena beliau dimusuhi oleh sukunya. Keduanya TIDAK.

Seperti saya sebutkan di atas, ini adalah proses alamiyah. Karena meski keluar (pindah) dari komunitasnya toh Datuk dan keturunannya tetap dihormati dan diberi “Hibah” tanah adat yang cukup luas untuk membentuk lingkungan sendiri bersama anak cucu beliau.

Jika saya cermati dengan baik sangka dan fikiran yang jernih, ini terjadi justeru karena adanya TOLERANSI dan PENGHARGAAN yang besar baik dari Komunitas suku maupun dari keluarga kami yang beragama Islam. Pemisahan tempat tinggal dan ‘pencabutan’ gelar bangsawan justeru memudahkan keluarga Dayak Muslim untuk melaksanakan ajaran Islam dan membuat Hukum adat Suku mereka juga tidak terganggu. Keduanya bisa berjalan ‘seiring’ dan damai.

Sisi positifnya (dan ini yang memang harus kita lihat) adalah:

1) Pencabutan ‘gelar kebangsawanan’ menyebabkan si Muslim tidka lagi memimpin upacara-upacara adat. Coba kalau jabatan adat tidak dicabut, bagaimana jadinya seorang muslim yang harus melakukan acara adat yang tak sesuai dengan aqidahnya?

Nah, dengan pencabutan ‘jabatan’ ini kan justeru menguntungkan keduanya, baik komunitas adat maupun komunitas muslim. Si muslim tak perlu melanggar aqidahnya dan adat juga tidak terganggu kegiatannya.

2) Pemindahan pemukiman juga menguntung kedua pihak. Si Dayak muslim tak perlu risih dengan keberadaan bianatang yang haram (menurut Islam) seperti babi dan anjing. Mereka juga bebas memasak sendiri makanannya. Sementara masyarakat adat (asli) juga tidak merasa sungkan dengan praktek adat sehari-hari yang boleh jadi tak sesuai dengan keyakinan saudara mereka yang muslim.

Saya melihat bahwa pencabutan gelar adat atau kebangsawanan serta pemisahan tempat tinggal bukanlah masalah di keluarga kami. Toh kami selama ratusan tahun tak pernah berkonflik, malah saling menjaga hubungan kekerabatan dan selalu harmonis. Kalaupun ada pemberian sebutan HALO’ kepada oran Islam itu bukan diskriminasi, justeru untuk memberikan identitas kepada saudara mereka yang muslim supaya mereka bisa menyesuaikan sikap. Misalnya, jika tamu yang datang ke rumah adalah keluarga yang HALO’ (muslim) saudara kamin yang non muslim tentu tidak akan menyuguhkan masakan yang mengandung babi. Nah, inikan lebih baik…?

Adapun berkenaan dengan terjadinya ‘perang’ antara pasukan Banjar dengan sebagian warga borneo yang masuk agama kristen pada saat jaman dulu, perlu difahami dengan lebih teliti serta bijak.

Pertama, belum tentu kejadian itu benar terjadi. Saya belum menemukan sumber sejarah yang valid yang membenarkan kejadian tersebut. Kedua, kalaupun itu benar pernah terjadi maka itu kejadian lama (dulu kala) dan belum tentu juga alasannya karena agama.

Adalah fakta sejarah bahwa masuknya agama Nashrani ke Indonesia termasuk Kalimantan dibawa oleh para misionaris luar yang saat itu kebetulan didukung oleh penjajah Belanda. Ingat, saya tidak mengatakan bahwa misionaris itu adalah penajajah, saya hanya mengatakan bahwa “KEBETULAN” misionaris itu didukung oleh penjajah belanda. Sesuai jargon belanda saat itu GOLD, GLORY dasn GOSPEL (*maaf kalau salah penulisan).

Nah, boleh jadi saja kebetulan beberapa diantara saudara kita yang memeluk Nasrani kemudian berada di pihak Belanda yang kebetulan (sekali lagi hanya kebetulan) sedang menjajah Indonesia. Nah kebetulan juga Kerajaan Banjar dulu itu sedang berperang dengan penjajah Belanda. Kita tentu sangat mengenal pahlawan PANGERAN ANTASARI yang begitu gigih berperang melawan Belanda.

Tidak mustahil kondisi inilah yang kemudian ‘terpilintir” dalam sejarah sehingga kesannya pasukan Banjar yang notabene Muslim memerangi Warga Dayak yang non Muslim. Sebab jika alasannya agama, mengapa hanya Dayak yang diperangi? Rasanya tak masuk akal. Ini bisa diumpamakan seperti sekarang ini pemerintah kita memerangi ‘TERORIS’ yang kebetulan beragama Islam dan kita menyebut bahwa pemerintah MEMERANGI Islam…. Tentu tidak bisa dipukul rata seperti itu.

Nah, mungkin itu dulu sedikit pendapat saya. Semoga bermanfaat… Dan saya mohon maaf sekiranya ada analisa saya yang salah atau menyinggung satu atau dua pihak. Sungguh ini hanya pendapat yang saya dasarkan kepada apa yang pernah saya lihat, saya alami, saya baca dan saya ketahui. Tentu mungkin saja banyak hal yang belum saya ketahui. Sekiranya ada yang salah sudilah kiranya saudaraku meluruskan. Dan saya tentu sangat berterima kasih sekali.

Tidak ada keinginan saya selain ingin bumi Borneo ini damai, tempat kelahiran saya ini berjaya memperoleh kemakmuran, kebebasan beragama dan hidup sejahtera menikmati kemerdekaan bangsa yang sesungguhnya.

BORNEO I L❤ VE YOU

(AMS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s