Salah Satu Manfaat Pemblokiran Facebook

122826_gembokTak selalu pemblokiran itu bermakna negatif. Facebook sendiri kadang memblokir pertemanan kita karena khawatir akun kita digunakan oleh orang yang tak bertanggung jawab, sehingga beberapa hari kita tidak bisa mengirim permintaan pertemanan kepada orang lain. Artinya ‘blokir’ yang ada di sini bermaksud positif karena untuk melindungi sang user sendiri. Ya, walaupun bagi kita terkadang menjengkelkan.

Demkian pula dalam dunian facebook. Terkadang kita terpaksa memblokir seseorang dikarenakan kita ingin menghindari mudharat yang besar, baik bagi diri kita maupun orang yang kita blokir. Kita harus menyadari bahwa tidak semua orang baik itu memiliki karakter dan pembawaan yang sama pula. Ada yang suka ngototan, ada yang suka kelembutan, atau malah ada yang suka mempposting hal-hal kurang senonoh.

Pendek kata, setiap orang memiliki selera, gaya dan perilakunya masing-masing.

Semestinya memang kita berupaya memahami dan menerima keragaman karakter atau pembawaan tersebut. Namun adakalanya menerima karakter tentu dalam atmosfer pergaulan kita, menyebabkan kita sangat terganggu. Misalnya seorang yang berkarakter santun dan menjaga etika, tentu akan merasa sangat terganggu manakala di dinding facebooknya terpampang status kawan yang berisi makian dan kalimat kasar.

Atau sebaliknya, seorang yang biasa menulisn seenaknya, urakan bahkan kadang berbau porno, boleh jadi merasa tidak enak atau malah bakal tersindir dengan status teman facebook yang selalu berisi dakwah agama dan nilai-nilai akhlak Islami.

Dari kedua keadaan ini, jelas semua pihak akhirnya sama-sama merasa terganggu. Terutama terganggu perasaan dan kebebasan dalam berekspresi di dinding facebook. Bagaimanapun sebenarnya setiap manusia memiliki naluri untuk menjaga perasaan orang lain. Tapi kalau itu kemudian membuat kenyamana sendiri terganggu, tentu akan jadi masalah lain.

Maka pemutusan hubungan pertemanan di facebook (atau malah pemblokiran) merupakan pemilihan solusi yang tidak salah. Apalagi kritik dan saling memberi saran sudah dilakukan namun malah berakhir pada ketersinggungan dan memicu saling debat, maka pemblokiran justeru akan bisa menjaga hati masing-masing pihak.

Malah tak mustahil pemblokiran di dunia maya akan membuat hubungan dunia nyata malah menjadi baik.

Saya sendiri pernah mengambil jalan ini. Bukan terhadap oirang lain, jsuteru terhadap istri-istri saya sendiri. Pada saat kami masih dalam tahap-tahap belajar ber-taaddud, dimana masing masing individu masih butuh penyesuaian kami memandang perlu untuk menutup akses antar akun facebook yang dimiliki.

Saya sebagai kepala rumah tangga ingin memberikan kesempatan dulu kepada istri-istri saya untuk saling mengadakan pendekatan dan pemakluman atas karakter ‘madu’, terutama di dunia maya yang secara tidak langsung kita merasa sangat bebas untuk memposting status atau gambar ini.

Ya, mungkin hal ini tidak berlaku pada semua orang, tapi paling tidak saya merasa hal itu perlu pada diri saya dan keluarga. Saya merasa bahwa saya adalah manusia yang lemah sehingga tidak mau bermain-main dengan hal-hal yang beresiko mengganggu keharmonisan rumah tangga saya.

Boleh saja jika ada yang menyebut saya lebay. Tapi anda yang berkata begitu segeralah introspeksi, siapa tahu ada diantara anda yang istrinya curhat kepada istri-istri saya tentang bagaimana kecemburuan mereka terhadap postingan madunya, hingga berakibat hubungan mereka tidak harmonis.

Sebagai lelaki yang berta’addud saya ingin jujur saja, bahwa menjaga keharmonisan itu bukan perkara yang mudah. Kami yang sudah hampir sepuluh tahun menjalani rumah tangga model ini, disela-sela kerukunan dan keharmonisan ini terkadang kami juga mengalami saat-saat dimana kondisi jiwa berada di titik yang rendah. Akibatnya konflik yang disebabkan oleh berbagai hal bisa saja terjadi.

Namun Alhamdulillah, dengan aneka aturan yang kami sepakati bersama, kami lebih banyak mengalami moment kebersamaan yang manis dibanding momen-monet konflik dan kecemburuan. Dan diantara ikhtiar yang kami lakukan adalah dengan saling memblokir akun facebook agar masing-masing tidak saling melihat status yang ditulis.

Pada mereka yang tidak melakukan ini, terbukti, banyak ‘pengaduan’ umahat yang tersinggung postingan madunya karena mereka bisa saling membaca status facebook masing-masing. Bahkan tak jarang terjadi saling sindir yang kemudian diperparah oleh bocoran-bocoran curhatan oleh mutual friend mereka sendiri.

Mungkin tulisan ini akan terlalu panjang jika saya ceritakan semua curhat umahat pelaku ta’addud yang sampai ke istri-istri maupun kepada saya sendiri. Namun inti dari tulisan ini adalah bahwa blokir atau putus pertemanan di facebook tidak selalu bermaksud buruk dan atau berakibat buruk. Adapun soal taaddud tadi hanyalah satu contoh. Bentuk lain interaksi yang bisa menimbulkan dampak negatif tidak hanya dalam hal itu.

Wallahu a’lam.

Samarinda, 19 Desember 2013
AMS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s